Pages

Rabu, 27 April 2011

Jokka RONKKK

Gak tau nih mau mulai cerita dari mana.. soalnya foto-foto ini dibuat dah lama banget #nah lohh kok bisa...
foto ini dibuat sekitar bulan desember tahun 2010.. hmmm, lumayan lama juga sih  and baru sekarang di postingkan..



sebenarnya sih nih foto di ambil saat kita (nak d'factour tentunya) habis pulang jenguk dari rumah mam' Ida..
yahh,, ngitung-ngitung habis menjenguk sekalian deh jokka-jokka dulu k'MP plus cuci mata boo' #jiyahaayyy....










dan berhubung nak d'factour selalu eksis+narsis jadi ceprat-cepret di manapun jadi... #hahaaa



SALAM D'FACTOUR

Minggu, 03 April 2011

TAK AKAN PERNAH KUMELUPAKANMU


“Dita... bangun ! Kamu tidak pergi ke kampus hari ini.?” kata mama sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku dengan lumayan keras.
“Dita... bangun ! Nanti kamu terlambat pergi ke kampus seperti kemarin.” kata mamaku sekali lagi dengan mengetuk-ngetuk pintu kamarku dengan frekuensi sedikit lebih keras dari sebelumnya.
Alhasil, usaha mama untuk membangunkanku dari tidurku yang sangat indah berhasil. Mataku sedikit demi sedikit mulai terbuka seakan siap untuk menjalani hari ini, walaupun terasa sangat berat. Otakku pun mulai bekerja mencari-cari dari mana sumber suara yang membangunkanku itu terdengar. Yah, akhirnya kutemukan dari mana sumber suara itu berasal. Suara seorang ibu yang mencoba untuk membangunkan anak gadisnya di pagi hari.
“ Ya ma...! Dita sudah bangun !” kataku dengan lemas seperti orang yang tak berdaya, walaupun sebenarnya aku masih ditempat tidur dan masih ingin melanjutkan mimpi indahku.
Dengan masih setengah sadar, tanganku meraba-raba meja kecil disamping tempat tidurku. Mencari jam weker berukuran kecil dan berbentuk wajah  “Mickey Mouse” kartun favoritku.  Aku mencoba untuk meraih  jam tersebut dengan sekuat tenagaku. Dan aku mendapatkannya. Pukul 08.17 !. Mataku langsung terbelalak melihat jamku menunjukkan pukul 08.17. Oh...gawat ! Aku terlambat lagi untuk pergi kuliah. Aku masuk kuliah jam 08.45. Dan bila terlambat maka aku akan mendapatkan SP (Surat Peringatan) untuk yang ketiga kali karena sering terlambat masuk ruang kelas. Ditambah hari ini merupakan hari dimana dosen yang masuk pada pelajaran pertama adalah dosen yang paling “killer” diantara semua dosen yang ada didalam wilayah kampus. Dia adalah Bu Kiki, dosen matematika atau paling dikenal dikalangan mahasiswa dengan sebutan Bu Kiki Nan Keji. Tanpa pikir panjang lagi aku melompat  dari tempat tidurku yang empuk dan nyaman menuju ke kamar mandi dengan hanya membasuh muka serta menyikat gigi. Satu menit kemudian aku menuju lemari pakaian dan mengganti baju tidurku yang kusut dengan baju yang akan kupakai pergi kuliah. Tak peduli bagaimana gaya serta kombinasi antara warna pakaian baju dan celana yang kupakai untuk pergi. Begitu juga dengan barang-barang yang kubawa,  kuambil secara acak dari rak bukuku tanpa tau apa jadwal mata kuliah nanti yang akan dipelajari. Yang ada dipikiranku sekarang hanyalah bisa tepat waktu untuk sampai di kampus bagaimana pun caranya.
Tanpa berbasa-basi aku bergegas keluar rumah.  Dengan mengendarai motor kutancap gas agar bisa dengan cepat sampai di kampus. Keselamatan mengendarai pun tak kuhiraukan. Berbagai tikungan kulalui dengan cepat dengan melaju diatas kecepatan 80 km/jam . Rasanya aku seperti seorang pembalap motor yang menguasai jalanan tersebut. Pukul 08.38. Akhirnya aku sampai juga. Aku  berusaha lari dengan sekuat tenagaku, berusaha dapat memasuki ruang kuliah dengan tepat waktu. Walaupun ruang kuliahku berada di lantai dua paling ujung. Aku berlari sekuat tenaga untuk mengejar waktu. Sampai juga aku pada pintu ruangan kuliahku. Dengan rasa was-was aku membuka pintu ruanganku dengan sangat pelan dan hati-hati. Takut akan ketahuan oleh dosen Kiki Nan Keji. Dari sela pintu yang kecil aku mencoba untuk mengintip.  Aku melihat semua temanku duduk diam dan tenang. Pulpen yang ada ditangan mereka seakan menari-nari memainkan tarian yang indah diatas sebuah kertas putih .Niatku untuk masuk kuurungkan. Kini perasaan campur aduk yang ada di benakku. Antara ingin  masuk atau tidak. Dag...dig...dug...itulah perasaanku saat ini. Takut apabila dosen sudah berada didalam ruangan.
Kuberanikan diriku untuk masuk. Tak peduli resiko apa yang nanti menantiku didalam ruangan. Sambil membuka pintu, akupun menutup mataku. Gelap, sunyi, dan takut itulah yang kurasakan dan hanya berdiri terpaku di pintu ruangan.
 “Dita... kenapa kamu berdiri disitu? Cepat duduk dan kerjakan tugas yang diberikan Bu Kiki!” kata perempuan tersebut dengan tenang. Mendengar perempuan itu bicara, otakku kembali berputar. Rasanya aku mengetahui siapa pemilik suara itu. Kucoba...coba... dan mencoba untuk mengingat. Akhirnya kutau siapa dia. Dia bukanlah Bu Kiki tapi Vita asisten dosen di kelas kami.
“Hufff, lega rasanya mengetahui dia bukan Bu Kiki Nan Keji. Hampir saja.” kataku dalam hati sambil terkekeh-kekeh sendirian.
Akhirnya mata kuliah hari itu usai sudah. Kini saatnya untuk merilekskan diri sejenak dengan bermain laptop. Yah, laptop kesayanganku. Tempat dimana aku mendapatkan hiburan tersendiriku. Tempat dimana aku bisa menuangkan  segala inspirasiku seperti layaknya sebuah diari.
“Hmm.. apa nehh ?” kataku bingung sendiri melihat  buku bertuliskan Bahasa Indonesia kelas 2 SMA di dalam tasku sewaktu ingin mengambil laptop.
“ Pasti ini barang yang terbawa waktu ngambil barang-barang di rak buku.” pikirku dalam hati.
 Pelan-pelan dan sangat hati-hati kubuka halaman pertama buku itu karena buku itu sudah terlihat sangat kusam dan tua. Sampai pada akhirnya kubuka lembaran demi lembaran dari buku itu dan membawaku pada satu lembar foto yang terselip didalamnya. Memegangnya saja aku tak sanggup. Bagaimana tidak, foto tersebut merupakan kenangan yang menyakitkan buatku.Teringat kembali aku akan kenangan dalam foto tersebut. Foto itu adalah fotoku bersama sahabatku. Namanya Dara. Lebih lengkapnya Dara Putri Kirana. Kami bersahabat sejak kecil. Sewaktu Taman Kanak-Kanak kami habiskan bersama, begitu juga semasa Sekolah Dasar. Ia sudah kuanggap sebagai saudaraku. Karena aku merupakan anak tunggal didalam keluargaku. Wajar  saja jika aku menginginkan seorang saudara dalam kehidupanku. Bahkan banyak yang bilang jika kami mirp seperti saudara. Keluarga kami berdua juga merupakan rekan kerja. Namun, keluarga Dara berbeda dengan keluargaku. Orangtuanya bekerja dari pagi sampai malam dan hampir tidak pernah bertemu dengan Dara. Mereka berangkat kerja pagi-pagi sekali sebelum Dara bangun dan pulang pada tengah malam. Aku sangat mengetahui bagaimana perasaan Dara yang sering ditinggal oleh kedua orangtuanya.  Maka dari itu aku sering menemaninya di rumah. Menemaninya bermain dan bercerita. Tapi tak tau mengapa ia pergi begitu saja meninggalkanku saat kami akan beranjak menuju  Sekolah Menengah Pertama kami. Dia pindah dan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan kepadaku. Aku pun tak mengerti mengapa dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata saja buatku. Bahkan setelah kami berpisah ia tidak pernah mencoba untuk mengabariku atau mencariku. Entah mengapa aku terus saja berpikiran negatif tentangnya semenjak itu. Berpikir kalau dia tidak ingin menemuiku, dan tak ingin bersahabat denganku lagi. Namun, aku melanjutkan hidupku sendiri . Tiga tahun masa SMPku  telah berlalu. Saatnya bagiku menuju kejenjang lebih tinggi yaitu SMA. Aku tidak terlalu ingat dari mana awal pertemuan kami berdua. Tapi saat itu kami kembali bersama. Ia dan aku sekolah di tempat yang sama. Awalnya aku kaget dan tidak mau memaafkan perlakuan Dara karena telah meninggalkanku sendirian. Namun, ia memberikan pengertian bahwa ia harus pindah karena orangtuanya juga pindah bekerja di Singapura.Tanpa balik bertanya, aku menerima saja pernyataan dari Dara dan kembali bersahabat dengannya. Itulah awal kedua kami bertemu.
Tanpa terasa airmata jatuh di pipiku. Menetes begitu saja mengingat semua kenangan kami berdua. Namun aku masih bisa menahan rasa sesak di dadaku akibat tangisanku. Aku mencoba mengambil nafas sejenak dan melanjutkan kenangan persahabatan kami. Melihat foto itu aku kembali teringat. Latar kami berfoto  ditempat favorit kami berdua yaitu pohon besar dibelakang sekolah. Walaupun tempat itu tampak mengerikan, tapi bagi kami tempat itu adalah yang terindah. Disana kami bisa merasakan sejuknya angin dan dapat memandang langit biru yang begitu indah.
 Tetapi kejadian aneh mulai terjadi. Dara menjadi jarang masuk sekolah beberapa bulan terakhir. Aku menjadi khawatir dan takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Dara. Hari itu juga aku memberanikan diriku untuk ke rumah Dara. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Dara. Tok..tok..tok... aku mengetuk pintu rumah Dara dengan sangat keras. Namun tak ada jawaban dari dalam rumah tersebut. Kucoba sekali lagi m engetuk rumah besar milik Dara dengan frekuensi yang lebih keras dari sebelumnya. Namun sekali lagi tak ada jawaban dari dalam rumah itu. Aku kecewa. Aku sedih. Tak tau bagaimana keadaan sahabatku yang sebenarnya. Tapi saat aku ingin pergi dari rumah itu, ada seseorang yang membukakan pintu utama rumah tersebut. Langkahku terhenti sejenak, berharap dia adalah Dara. Tapi pada kenyataannya bukan. Dia adalah pembantu di rumah Dara.
“Maaf, apa ada Dara di rumah ?” tanyaku dengan penasaran pada pembantu itu.
“Hmmm...anu Non. Neng Dara...Neng Dara....” jawab pembantu itu dengan sedikit gagap dan takut seakan dia menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh aku ketahui.
“Kenapa dengan Dara ? Dimana sekarang Dara ? Ada apa dengannya ?” tanyaku dengan agak mendesak kepada pembantu itu, mungkin karena aku terlalu khawatir dengan sahabatku Dara.
“ Neng Dara sekarang ada di rumah sakit Non. Neng Dara tidak ingin Non Dita tau kalau sebenarnya Neng Dara lagi sakit. Itu pesannya kepada saya.” kata pembantu itu dengan sedikit bersalah kepadaku.
Dadaku serasa  sesak sekan ada seseorang yang menusuk tepat di dadaku. Pembuluh darahku seolah-olah berhenti mendengar apa yang dikatakan pembantu itu. Dara sahabatku selama ini ternyata dia sakit. Aku merasa aku orang paling  bodoh di dunia ini. Begitu bodoh. Sehingga selama ini tak menyadari jika ternyata sahabatku sakit. Padahal aku selalu bersama dengannya. Dan kini aku tak tau sakit apa yang dideritanya.Tanpa pikir panjang lagi aku menuju rumah sakit tempat ia dirawat. Rumah Sakit Kelapa Gading kamar VIP  nomor 13 diujung koridor adalah tujuanku sekarang. Akan tetapi saat aku sampai di kamar itu, hanya ruangan kosong yang kudapatkan. Pikiranku kacau melihat pemandangan itu. Kemana lagi aku harus mancari Dara. Kucoba bertanya pada perawat di rumah sakit itu. Alhasil, yang kudapatkan hanyalah  berita buruk darinya. Dara kini berada di ruang UGD karena dia harus menjalankan operasi. Aku tak tau operasi apa yang dijalankannya, tapi aku yakin dia mempunyai penyakit yang cukup serius. Bergegas aku pergi ke ruang UGD. Disana aku bertemu dengan kedua oraangtua Dara. Perlahan aku mencoba mendekati ruang UGD walaupun kakiku terasa sangat berat. Kupaksakan diriku. Walau aku tau sekarang dia hanya bisa terbaring lemah di ruangan itu. Walau airmataku jatuh menetes deras namun tetap kupaksakan. Perlahan kumendekati pintu ruang UGD mencoba mengintip dari luar ruangan tersebut. Namun usahaku percuma. Aku tetap tidak bisa melihatnya.
Melihat aku menangis sendiri di pintu luar ruangan UGD, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarikku mundur dari pintu itu dan memelukku dengan erat. Seakan dia tau perasaan yang kurasakan saat ini. Ibu Dara, dialah yang memeluk erat tubuhku. Mencoba untuk menenangkanku.
“Dara dan kamu sudah bersahabat sejak kecil. Apa kamu tahu, dia sudah menganggapmu sebagai saudara kandungnya sendiri. Dara sangat sayang padamu Dita, sehingga ia tidak ingin kamu tau yang sebenarnya.” kata Ibu Dara dengan sangat hati-hati kepadaku.
“Maksud tante apa Dara tidak ingin aku tau yang sebenarnya ?” tanyaku dengan rasa  ingin tau apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Selama ini Dara mengidap penyakit kanker darah.Dia tidak ingin kamu mengetahuinya karena ia  mau jika kamu dan dia bersahabat terus. Dia takut apabila kamu tau yang sebenarnya, kamu tidak mau berteman lagi dengan Dara.” jawab Ibu Dara dengan jelas. Ia memghela nafasnya sejenak dan melanjutkan cerita.
“Dara mengalami kanker darah sudah lama. Sejak ia kelas 2 SD. Maka dari itu saat Dara lulus SD kami memutuskan untuk pindah ke Singapura sekaligus agar Dara bisa berobat disana. Awalnya Dara tidak ingin pindah karena ia ingin terus bersamamu. Tapi kami terus saja memaksanya untuk berobat disana.Dan sekarang Dara memasuki stadium terakhir. Sebagai orangtua, Tante dan Om juga sadar sebenarnya ini merupakan salah Om dan Tante karena kurang memperhatikan Dara.” lanjut Ibu Dara yang tak menyadari airmatanya juga mulai menetes.
“Tante dan Om tidak pernah ada buat Dara. Kami hanyalah orangtua yang gila dengan pekerjaan kami. Tapi cuma satu hal yang Tante tau tentang Dara kalau Dara mempunyai sahabat yang baik seperti kamu, yang selalu menemani Dara, yang selalu ada buatnya. Makasih atas semua yang kamu lakukan pada Dara.Tante tidak tau harus dengan cara apa kami bisa berterima kasih dengan kamu” sambung Ibu Dara.
Mendengar semua itu rasa sakit dan sesak di dadaku semakin menjadi-jadi.Ternyata selama ini aku telah salah menilainya. Kupikir dulu Dara pindah karena ia tidak ingin berteman denganku lagi. Tapi pada kenyataanya akulah yang salah bukan Dara. Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, sangat kecewa. Sampai pada akhirnya dokter yang menangani kasus Dara keluar dari ruangan itu. Tentu saja dengan rasa cemas kami ingin mendengar bagaimana hasil dari jalannya operasi tersebut. Namun apa boleh buat, Tuha berkehendak lain. Dokter tidak bisa menyelamatkan nyawa Dara. Dara kini telah pergi meninggalkan kami, keluarga dan sahabatnya. Bahkan dia pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan untukku yang kedua kali. Dia pergi begitu saja.
Badanku kini mulai berguncang mengingat kenangan yang menyakitkan itu. Aku tidak bisa menahan lagi emosi yang ada dalam batinku. Aku menangis sejadi-jadinya, tak peduli orang yang berlalu-lalang melihatku seperti ini. Namun satu hal yang ingin aku sampaikan pada Dara bahwa   Tak Akan Pernah Kumelupakanmu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More