Pages

Sabtu, 18 Juni 2011

Testimoni Junior High School : NEW FRIENDS

PERIODE KELAS 1 : NEW FRIENDS
Sekarang tahap masuk kelas. Teman-temannya sih sama seperti waktu MOS, gak ada bedanya. Pertamanya sih aku masuk dikelas IA. Saat itu teman sebangkuku namanya Baya (bukan baju KeBaya atau nama kota SuraBaya loh). Penilaian pertamaku ke dia saat itu orangnya baik dan cukup menyenangkan, apalagi dia juga senasib denganku “anak guru” juga. Kita berdua duduk dibangku kedua paling ujung dekat tembok dan dekat meja guru (tuh tempat aku yang milih karena emang suka bersandar ditembok,, xixii) Tapi setelah ada pengacakan kelas lagi aku digeser ke kelas IB. Nyebelin banget kan kalau harus pindah lagi ke kelas lain. Secarakan udah kenal teman yang dulu apalagi sekarang harus beradaptasi lagi dengan teman-teman baru. But its okay. Dikelas IB inilah ‘I found my first love’ and ‘my bestfriends’ hahaaa. Pertamanya sih aku duduk dibangku ketiga barisan kedua dari meja guru. Hufftt, walaupun di pertengahan jauh banget rasanya. Berartikan frekuensi suara guru bakalan kurang didengar. Tapi yang namanya dewi fortuna memang gak berpaling dariku. Saat itu mama sengaja mampir kekelasku dan ngelihat kalau aku duduk dibangku ketiga (mama kan tau kalau aku dari TK sampai SD suka banget duduk dibangku kedua atau pertama dekat tembok) jadinya dia menyuruhku bertukar tempat kebangku pertama dekat meja guru. Ciihuuuyyy, akhirnya. Thanks mom.

Teman sebangkuku ini juga gak kalah baik dan menyenangkan dibanding dengan Baya tadi. Malahan yang satu ini seru dan gokil abiss. Yah, namanya Mindi. Lebih tepatnya Mindiya Idrus. Pokoknya selama tiga tahun di SMP dialah my best best best friend. Tapi kalau si Abee ini kenalnya lewat Adhe #ehemm, itu loh my first **** jiaahayyy. Secarakan Abee sama Adhe juga sahabatan waktu SMP.
Well, aku gak tau dari mana awalnya kenal sama si Adhe ini, kalau bisa dibiilang yah ngalir gitu aja. Seingatku sih dia duluan yang mulai cari-cari perhatian (CarPer gitu). Aku sih biasa-biasa saja malah agak sedikit risih sih, bahkan Mindi saja merasakan hal yang sama denganku yaitu risih terhadap kelakuannya. Pokoknya tiap Adhe datang kebangku ku dan Mindi bukannya aku yang marah-marah karena kelakuannya yang CarPer tapi malahan Mindi yang marah sama Adhe. Tapi tiap ngelihat Adhe dimarah-marahin sama Mindi, si Abee nih gak tinggal diam. Dia juga membalas marah-marah sama Mindi. Hmmm, pokoknya kalau flash back dan ingat nih dua orang (Mindi dan Abee) kayak Tom&Jerry. Kerjanya berantem mulu sampai tamat SMP. Ada beberapa hal yang paling kuingat sekali dari dua orang ini. Ini terjadi saat kelas 2. Gak begitu terlalu mengingat masalah apa yang terjadi tapi sewaktu itu aku dan Abee berebutan tasnya Mindi dan tanpa disengaja tasnya Mindi robek. Jadinya Mindi nangis dan meminta ganti rugi atas kejadian itu. Tapi dia hanya meminta Abee yang mengganti rugi atas kejadian tersebut (sebenarnya sih aku merasa bersalah juga karena aku juga ikut terlibat dalam masalah tersebut #maaf yah Mindi ). Yah mau gak mau Abee mencari jarum dan benang lalu menjahit tas tersebut Catatan : disuruh sama guru yang ngajar waktu itu. Ada juga yang kuingat tapi ini saat kelas 3. Waktu itu Abee ingin CoPas (Copy Paste) PRnya Mindi karena ia tidak mengerjakannya (kalau menurutku sih malas kerja hahaaa) tapi Mindi tidak begitu saja memberikan PRnya itu. Dia meminta supaya Abee berlutut dihadapannya sambil memohon. Dan yang terjadi…. dia bener-bener ngelakuinnya. Wuihhh, gokil deh yang namanya Mindi. Pernah sih sempat kepikiran , kenapa sih gak sekalian jadian aja?? kan benci bisa jadi cinta?? Ya kan??? Hahaaaa.

So, back ke kelas 1. Kasihan juga sih lihat Adhe dimarah-marahin sama Mindi. And kalau dilihat-lihat sebenarnya nih anak lumayan juga sih (its my opinion). Dan benar aja lama-kelamaan kujuga mulai tertarik sama Adhe #heheee jadi malu sendiri. Tapi sebenarnya bukan hanya Adhe aja yang suka CarPer. Diam-diam juga ada salah satu temanku yang merhatiin aku. Yah, bukannya ke GR-an sih tapi yang namanya indera ke-enam atau feeling kadang selalu benar. Soalnya aku ngerasa ada yang sering ngelihatku dari jauh. Hmm, and then emang benar aja waktu itu (masih kelas satu) dia nembak aku. Maaf yah yang satu ini namanya dirahasiakan.Sstttt !!. Oia, ada satu lagi nih. Kalau bisa dibilang pertemanan dikelas itu seperti berkelompok. Terutama nih ceweknya. Namun, walaupun begitu kita lumayan kompaklah. Tapi ada juga loh cowoknya yang buat kelompok-kelompok kayak gitu. Julukanya sih “Tiga Serangkai” personelnya nih terdiri dari Amran, Didi, dan Iksan. Pokoknya nih 3 orang kalau kemana-mana selalu sama-sama. Gak heran sih secara kan rumah mereka berdekatan. Dalam hal pelajaran bisa dibilang aku orangnya biasa-biasa aja. Semester pertama dan kedua di kelas satu aku termasuk dalam sepuluh besar #peringkat 6 terus gak da perubahan. Sedangkan Mindi selalu jadi juara kelas. NB : saat temanmu berhasil kitapun juga senang tapi jauh dilubuk hati yang dalam ada rasa sedih karena ketinggalan jauh dari temanmu. Nah, rasa-rasanya tidak seru kalau kita tidak menbahas juga tentang guru—guru di sekolah. Apalagi kalau guru itu punya julukan tersendiri yang di berikan anak murid kepadanya. Hanya dua orang saja sih yang kuingat. Pak “silahkan” versus bu “sekaram”. Pasti kalian bingung. Kok dikasih julukan kayak gitu sih??. Asal mulanya ntuh dari kebiasaan mereka sendiri kok dalam cara pengucapannya. Pak “silahkan” ini merupakan guru Fisika kelas 1 dan kelas 3. Di juluki “silahkan” yah karena tiap menyuruh siswanya maju kedepan selalu mengatakan kata “silahkan” (Sopan banget yah). Sedangkan bu “sekaram” itu guru Matematika waktu kelas 2. Taukan gimana pelafalan kata orang Maros?? Jadi jika ada kata akhiran “ng” diubah jadi huruf “m” atau menghilangkan huruf “g” tersebut atau bisa juga malah menambahkan huruf “g”. Contohnya : Sekarang menjadi sekaram atau sekaran. Ikan jadi ikam atau ikang (jadi ingat artis Ikang Fauzi nih hahaaa). Jadi bukan salah muridnya donk kalau mereka kasih julukan seperti itu # hmm de de, mau tonk lolos… ckckckkkk. Tapi walaupun begitu mereka adalah pahlawan tanpa jasa buatku. Apalagi mama. Selain pahlawan tanpa jasa dia juga seorang malaikat penolongku, yah karena tiap aku kehabisan uang jajan tinggal pergi aja keruang guru. Masalah malu-malu sama guru itu sih urusan belakangan toh aku juga kan sudah ditau kalau anak guru. Jadi buat apa malu. Self your confidence… tapi kok kenapa yah teman-temanku tidak ngasih julukan juga buat mama?? Apa takut nantinya aku kasih tau ke mama??

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More